Mengorganisir; Bukan Kerja Cari Uang!

Posted on December 3, 2008

4


Tulisan ini merupakan sebuah renungan ringan yang saya dedikasikan kepada kawan-kawan (yang hingga saat ini) yang masih setia sebagai aktivis cum organizer rakyat untuk perubahan.

***

Organisasi sepertinya bukan menjadi hal yang asing bagi kita, sebagai misal dalam setiap interaksi kita dengan individu lain tanpa sadar dan kesepakatan yang mengikat kita telah berorganisasi. Sifat mendasar manusia memang memiliki naluri ganda, yakni selain sebagai makhluk individual tentu juga menjadi makhluk sosial (komunal). Hidup berkomunitas seakan bukan sekedar takdir sejarah namun lebih karena kebutuhan yang bersifat naluriah. Seiring kemutakhiran zaman maka corak dan watak organisasi juga berdialektika sesuai dengan konteks (kebutuhan) kezamanan. Sebagai misal dalam era primitif-purba kebutuhan organisasi lebih pada aspek pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis semacam produksi dan pengelolaan pangan secara kolektif, reproduksi kelangsungan pada keturunan, dsb. Sedangkan memasuki era awal sejarah sampai dengan terbentuknya kerajaan dan juga organisasi modern seperti negara, kebutuhan organisasi mulai bersifat politis dan bukan hanya sosial semata.

Beberapa ormas dan ornop tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah community organizer atau pengorganisir komunitas. Yakni seorang aktivis ormas atau ornop yang mendedikasikan pikir dan tindaknya untuk senantiasa melakukan pengorganisasian di tingkatan rakyat yang mempunyai cita-cita bersama pada terwujudnya sebuah perubahan kearah lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan kerakyatan yang lebih prinsipil dan urgen.

Organisasi sebagai wadah dan alat tidak bisa dinafikkan hanya sebagai bumbu-bumbu kepentingan politik secara kolektif (baik itu kekuasaan dan atau pengaruh). Sehingga dalam berorganisasi tidak bisa dilepaskan dari peran kader atau aktivisnya. Kader atau aktivis merupakan tulang punggung sebuah organisasi. Ibaratnya memisahkan aktivis dari organisasi adalah memisahkan ikan dari air.

Aktivis adalah garda terdepan dalam dinamika sebuah organisasi. Mengutip Ben Anderson dalam Cerpen Thailand karya Withayakon Chiangkuan, aktivis dilukiskan sebagai individu yang sulit dipahami oleh ibunya sendiri. Dalam artikata Ia melawan kebiasaan lazim yang pernah hidup dalam keluarga, dan tidak mau untuk menjadi pekerja yang menghabiskan hidupnya dalam rutinitas. Bagi seorang aktivis, rutinitas kerja itu mematikan entitas kemanusiaan. Yang dalam bahasanya Marx disebut sebagai proses alienasi atau dehumanisasi. Manusia yang seharusnya bebas dan merdeka, malah dengan sengaja menghambakan dirinya pada penindasan paling keji yakni rutinitas. Tiada mengherankan jika aktivis memilih untuk hidup dalam organisasi yang memiliki segudang harapan tentang keadilan.

Dalam tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer dilukiskan bagaimana seorang Minke (tidak lain personifikasi dari Tirto Adi Soerjo) bergelut dengan feodalisme kultural yang merangsek dalam sendi-sendi tata kehidupan keluarga. Dikisahkan pergulatan seorang Minke sebagai aktivis pionir zaman pergerakan melawan dua musuh sekaligus, yakni feodalisme Jawa dan imperialisme Belanda.

Nilai lebih kaum aktivis terletak pada kesadaran individu dalam memahami fenomena sosial yang terjadi dan mensikapinya secara kritis. Sehingga titik poinnya adalah pada kesadaran kritis. Kenapa harus pada kesadaran kritis? Menurut Paulo Freire kesadaran dibagi dalam tiga bentuk, yakni kesadaran magis, kesadaran palsu, dan kesadaran kritis. Dari ketiga bentuk kesadaran ala Freire, hanya kesadaran kritis seorang individu yang mampu menggerakkan dialektika organisasi secara maju untuk membuahkan sebuah gerakan yang berujung pada perubahan sosial. Mansour Fakih menambahkan bahwa inti dari pendidikan kritis adalah belajar memahami pertentangan-pertentangan sosial-ekonomi serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari situasi pertentangan tersebut. Pengalaman Freire dalam mengorganisir kaum papa buta huruf di Brasil, membuktikan bahwa kesadaran kritis telah menggerakkan perubahan sosial. Atau pengalaman Kardinal Sin dengan membangkitkan kesadaran massa secara kritis mampu melahirkan people power yang melegenda, yang mampu menumbangkan dictator Marcos di Filipina.

Di Indonesia sendiri organizer rakyat bukan menjadi hal yang baru, mengingat banyaknya ormas dan ornop yang tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Situasi ketimpangan social yang melanda Indonesia menjadi factor pendorong munculnya organizer rakyat. Adalah Kali Code, salah satu karya organizer rakyat, Romo Mangun, yang mencoba membangun dan menata bantaran sungai di wilayah urban Jogja yang terkenal kumuh dan terpingirkan. Saat ini karya Romo Mangun dan para sukarelawan untuk Kali Code memperlihatkan bahwa penataan kehidupan melalui organisasi rakyat yang terorganisir bisa menjadi jawaban terhadap problematika pinggiran perkotaan yang cenderung mendapatkan stigma kumuh dan kotor.

Keberadaan aktivis yang tidak bisa dipisahkan dari dunia menganalisis memang tidak lepas dari peran pendidikan. Banyaknya aktivis yang lahir dan menjamur diawali dari dunia persekolahan. Kajian kaum intelektual akan fenomena yang timpang melahirkan dunia aktivisme. Menurut Antonio Gramsci intelektual organik-lah yang teruji mampu mengatasi krisis sosial yang berada di masyarakat. Sedangkan kaum intelektual tradisional masih terjerembab dan berkutat dalam kajian-kajian yang tercetak dalam working paper dan project proposals-nya yang sesungguhnya malah mengukuhkan keberadaan kampus sebagai menara gading. Intelektual organik menurut Ernest Mandel juga bukan tanpa sebab memilih jalur pengorganisiran massa, akan tetapi sepenuhnya dilandasi oleh kondisi riil dan basis berpikir dan bertindak sesuai dengan kebutuhan organisasi yang progresif dan revolusioner. Bahkan secara tegas Francis Wahono menyatakan bahwa gerakan sebuah organisasi tanpa menangani kebutuhan-kebutuhan mendasar rakyat artinya hanya bergerak di wilayah konsep sehingga tidak akan dapat mengikat dan menjaga semangat organisasi dalam berjuang memperbaiki nasibnya.

Aktivis yang tumbuh-berkembang secara organik merupakan buah manis dari dinamika organisasi yang terorganisir secara terarah dan terukur dalam pola perjuangannya. Bahkan Mao Tse Tung, menandaskan bahwa jika perubahan adalah milik bersama sebuah organisasi revolusioner maka para organizer-nya harus bersedia hidup dengan basis (anggota organisasi massa). Sehingga sense of belonging terhadap sebuah permasalahan hingga proses-proses penyelesaiannya menjadi ada.

Berkaca dari teori dan praktek para organizer yang telah ada maka terlalu naïf jika pengorganisiran sebuah organisasi yang maju dan bercita-cita pada perubahan sosial masih juga bersandar pada pertanyaan lugu : “Kalau begitu, dengan kerja seberat itu siapa akan menggaji para aktivis?”. Sebuah benturan pola berpikir pragmatis dengan yang realistis.

Kerja dengan imbalan gaji seolah-olah merupakan jawaban dari permasalahan mendasar manusia. Namun jika ditelisik lebih dalam beberapa contoh kasus perburuhan, bahwa kerja sekedarnya merupakan penghambaan diri terhadap pemodal sehingga takdir sejarah feodalisme yang runtuh dengan munculnya kapitalisme adalah mitos palsu kaum pemodal dan borjuasi komprador. Dalam problem ini sepertinya tesis Marx terbukti mutlak benar, bahwa menurutnya, Kapitalisme memang mampu merubah tatanan masyarakat perbudakan purba, antara budak terhadap tuannya. Namun tanpa sadar kapitalisme juga menciptakan perbudakan baru, yakni penghambaan kaum pekerja yang teralienasi terhadap upah dan bayaran. Secara prinsip kapitalisme hanya mendekontruksi feodal-primitif menjadi feodal-modern.

Para aktivis atau organizer terbukti mampu berpikir dan bertindak melampaui tesis Marx. Bahwa alienasi pada diri kelas pekerja produktif harus dibongkar melalui pendidikan pengorganisiran bersama rakyat tertindas untuk berjuang bersama dalam memperoleh dan mengontrol alat produksi secara berjama’ah dan bukandiserahkan hanya kepada segelintir kecil individu pemodal. Atas dasar pemikiran ini gerakan kerakyatan harus bersatu padu menjadi gerakan organik dengan tingkat kesadaran yang bersandar pada kebutuhan mendasar kelas tertindas.

Ambil contoh, saat ini Indonesia menurut data BPS masih mengukuhkan bahwa 70% lebih rakyatnya berada dalam ranah pertanian, namun situasi obyektifnya membuktikan bahwa kondisi riil petani-nya sangat menderita karena ketergantungan produksi pertanian pada pemodal besar dan juga akses dan control terhadap alat produksi menjadi monopoli pemodal yang diperolehnya melalui bujuk-rayu dan iming-iming harta kepada birokrasi brengsek yang berselingkuh dengan jenderal militer korup. Situasi seperti ini sedikit banyak menjadi latar belakang lahirnya organisasi gerakan petani yang berorientasi pada keadilan terhadap sumber produksi. Kesadaran petani tidak bisa terlepas dari peran para organizer yang memang saat ini didominasi oleh para intelektual kota. Sehinga tugas terbesar para intelektual kota adalah keharusan pada penumbuhan kader-kader petani local yang disini dapat disebut sebagai  menumbuhkan para intelektual organik.

Para intelektual kota yang menjelma menjadi organizer seolah sudah terbebas dari beban rutinitas palsu ala kolese yang membelenggu dirinya dan menjauhkan dirinya dari problematika kerakyatan yang penuh dengan ketimpangan dan ketidak-adilan. Para organizer ini sudah menganalisis dirinya dengan penuh kesadaran kritis bahwa mengorganisir adalah penderitaan yang membanggakan. Menderita karena hidup dalam kesederhanaan, bahkan tidak kurang hidup dalam kekurangan namun membanggakan karena mampu membangkitkan kesadaran kritis secara bersama-sama rakyat yang diorganisirnya untuk bangkit berjuang melawan tirani yang membelenggunya dan terbebas dari kungkungan penindasan kaum pemodal dan borjuasi birokat yang jahat.

Pekerjaan organizer yang senantiasa hidup di basis terkadang membuat bingung kalangan konservatif yang mengandalkan logika formalnya, dan tidak jarang mencibirnya sebagai pekerjaan yang sia-sia dan tidak berguna. Akan tetapi pilihan yang didorong oleh keinginan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik mampu menepis cibiran kaum konservatif. Para organizer percaya bahwa perubahan secara mendasar akan tatanan kehidupan yang adil dan berpihak pada yang papa adalah jawaban terhadap problem kemanusiaan yang paling luhur dan mendasar. Artinya memberikan perubahan bukan pada perutnya sendiri namun juga pada kebutuhan orang banyak.

Dom Helder Camara, seorang tokoh teologi pembebasan Amerika Latin mengatakan bahwa, “menyembah Tuhan dengan perut yang kenyang lebih mulia daripada menyembah-Nya dengan perut yang kosong dan segudang permasalahan lainnya. Sebab bersyukur kepada Tuhan lebih mulia daripada memohon sebuah perubahan. Tuhan sendiri tidak akan merubah sebuah bangsa jika bangsa itu sendiri tidak mau berubah.”

***

Wawan H. Suyatmiko

Penulis

Kini Bergiat di SPPQT Pada Departemen Advokasi – Reforma Agraria

Posted in: Artikel