Masih Perlukah Membangun PLTN di Indonesia (Part 2)

Posted on April 10, 2008

1


Tulisan ini saya buat sebagai catatan perjalanan saya bersama kawan-kawan dari komunitas GETON (Gerakan Tolak Nuklir) : Mas Eko, Mas Nick, Mas Yogi, Mas Reno dan Mas Febri. Tulisan ini dipisahkan dalam dua sesi berbeda, yakni sesi pertama kunjungan ke Balong-Jepara, sebagai daerah tapak PLTN dan sesi kedua saat bedah buku tentang Anti PLTN-Fissi di Unika Soepra, Semarang.

***

“Wan, cepetan ! Udah ditunggu ma temen-temen, nih !”, Begitulah nada keras seorang kawan terdengar dari telepon genggam saya. Pagi itu memang saya dan beberapa kawan dari komunitas GETON merencanakan untuk mengadakan “piknik” ke Balong-Jepara, yang konon katanya merupakan satu titik dari sebelas titik rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Hari itu minggu (6-4-2008), sengaja dipilih karena memang sudah janjian dengan Mas Sumedhi, tokoh pemuda desa Balong yang dikenal “vokal” didaerahnya. Tujuan saya dan beberapa kawan ke Balong tidak lain adalah karena menepati janji untuk mengadakan diskusi tentang energi alternatif Biogas, yang saat ini menjadi primadona energi alternatif di Indonesia.

Perjalanan ke Balong selama kurang-lebih 4 jam via Semarang ini tertebus sudah ketika sudah sampai di mulut desa yang ternyata ditengah hutan karet. Yang mengherankan bagi saya adalah ternyata selama ini orang Jakarta bercerita lain. Orang Jakarta bilang, desa Balong adalah desa yang tandus nan tak berpenduduk, padahal ketika saya kesana tidak kurang ada seribu lebih gundhul yang menghuni desa tersebut.

Lhah, orang Jakarta ki piye to ??” (Lhah, orang Jakarta itu bagaimana ?), tanya saya kepada salah satu aktivis mahasiswa dari FORSMAD Jogja, yang kebetulan saat itu sedang live-in guna mengadvokasi masyarakat Balong.

“Lha itu. Memang selama ini Jakarta selalu membuat berita seolah-olah Balong ini kawasan nan tandus dan tak berpenghuni. Bahkan Sonny Keraf dan Alvin Lie yang pernah datang ke sini dilewatkan jalan tengah hutan yang memang tak ada penduduknya dan memang tandus. Jadi lewat jalan lain dan bukan jalan utama !”, tegas seorang kawan aktivis tersebut.

“Walah, ini namanya pembohongan.”, pikir saya.

Diskusi dengan kawan yang kebanyakan dari mahasiswa Universitas Muhamadiyah Yogyakarta tersebut memang banyak diisi dengan candaan dan gelak tawa, selayaknya kawan lama yang sudah akrab saja. Dari guyonan tersebut sempat terlontar juga bahwa selama ini masyarakat Balong menjadi antipati dengan Pemerintah terutama jika mendengar kata BATAN, warga langsung memuntahkan sumpah serapah layaknya metaliur dari bibir meriam (hiperbolik memang, karena bahasa yang mereka gunakan tidak lazim oleh telinga saya).

Setelah berdiskusi dengan aktivis mahasiswa, saya dan beberapa kawan menuju rumah mas Sumedhi yang kira-kira berjarak tiga ratus meter dari posko mahasiswa.

Di rumah mas Sumedhi agenda utama untuk berdiskusi tentang energi alternatif biogas dimulai dengan memutar film tentang tata cara pembuatannya.

“Mas, itu bahannya dari telek ya (kotoran-pen), selain telek sapi bisa ndak ?”, tanya mas Sumedhi.

“Bisa mas, seperti dari inthil wedhus (kotoran kambing-pen) dan limbah tahu juga bisa. Namun saat ini kotoran sapi masih yang sering digunakan, selain karena gampang juga melimpah untuk ukuran di desa-desa.”, jawab Mas Eko.

“Terus mas, bisa ngga’ biogas ini dikemas biar nantinya bisa dijual seperti gas elpiji itu.”, tanya seorang peserta diskusi.

“Biasanya biogas ini digunakan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan energi pengganti minyak tanah dan kayu bakar untuk masyarakat itu sendiri. Artinya untuk kemandirian energi dan bukan untuk dijual, Mas.” Jawab mas Nick dari Percik.

Saya sempat berpikir, aneh koq bisa mereka ditengah hutan seperti ini berpikirnya sangat ekonomis (maksud saya berpikir dagang), artinya sangat berpikir keuntungan belaka. Usut punya usut ternyata mereka (warga Balong-pen) berpikir rencana menjual gasbio yang dihasilkan untuk kepentingan pendapatan kas guna mendukung perjuangan mereka melawan PLTN.

“Waduh Pak, sepertinya teknologi pengemasan gasbio ini sangat tidak lumrah, karena gasbio ini untuk menggantikan energi lain seperti yang dikatakan oleh mas Eko dan mas Nick. Tetapi jika untuk perjuangan anda melawan PLTN maka bisa juga kan uang yang anda gunakan untuk membeli minyak tanah yang saat ini harganya sangat mahal diganti dengan gasbio ini dan setengah dari uang untuk membeli minyak tanah bisa untuk kas perjuangan. Jadi bisa dapat dua keuntungan, yakni pertama adalah pemenuhan energi rumah tangga dan kedua adalah bisa mengirit pengeluaran yang sukur-sukur setengahnya untuk kas pejuangan PMB (Persatuan Masyarakat Balong).”, tukas saya.

“Tapi jika memang ingin mendapatkan pemasukan dari hasil bertani, kami juga bisa membantu dengan mengadakan pelatihan tentang pertanian organik.”, terus mas Nick.

Tawaran dari Mas Nick ini direspon positif oleh warga yang datang pada diskusi kecil tersebut.

Selain berdiskusi, saya berkesempatan berkunjung ke tapak calon pembangunan PLTN di desa Balong. Tapak yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari rumah mas Sumedhi, saat ini sudah disegel oleh rakyat dalam bentuk pengecoran didepan pintu masuk kantor BATAN dan ditulis besar-besar “PLTN DITOLAK”.

Saya sempat bertemu dengan seorang yang kebetulan sedang mencari rumput disekitar areal tapak tersebut.

“No, kuwi sopo?” (No, itu siapa?-pen), tanya bapak pencari rumput pada “guide” kami, Pak No namanya.

Kuwi konco-konco soko Salatiga sing bar seko nggone mas Sumedhi nge’ki penyuluhan tentang biogas karo pertanian organik.”, (Ini kawan-kawan dari Salatiga yang baru saja dari Mas Sumedhi memberi penyuluhan tentang Biogas dan pertanian organik.-pen), jawab si “guide”.

Saya sempat tertawa kecil saat mendengar kata penyuluhan.

“Oh tak pikir wong seko Jakarta.” (Saya pikir orang dari Jakarta-pen), jawabnya.

Saya sempat bertanya, “Kalo dari Jakarta memangnya kenapa?”.

“Biasanya kalo orang Jakarta datang kesini selalu diam-diam dan kebanyakan itu orang BATAN.”, jawab “guide”.

“Wah, nek wong BATAM (maksudnya BATAN-pen) bisa saya bajak mobilnya!”, jawab bapak pencari rumput dengan bernada agak marah.

Lalu mas Nick menimpali, “Dibajak bagaimana?”.

“Ya bisa saya bacok!”, tegasnya lagi.

Waduh, saya jadi berkesimpulan bahwa sebegitu bencinya masyarakat Balong dengan BATAN. Selintas saya melihat papan nama BATAN juga dicat putih dan sudah tidak bisa dibaca lagi. Saya sempat terpikir apakah itu tandanya BATAN sudah menyerah di tempat ini. Memang dalam pandangan saya dan cerita dari masyarakat setempat, bahwa mereka tidak pernah diajak berdiskusi oleh BATAN dan Pemerintah dengan kelanjutan kasus pembangunan PLTN di desanya. Terlebih saat ini di daerah Pati, Rembang, Jepara dan Kudus sudah beredar buku kecil dari BATAN yang bekerjasama dengan Depdiknas menerbitkan buku saku tentang PLTN dan seluk-beluknya. Ketika saya menanyakan kepada mereka, ternyata buku tersebut belum mereka dapatkan.

“Lhah memang BATAN itu sinis sama warga Balong!”, tukas seorang warga.

Menurut keterangan di media cetak, buku ajar tersebut diterbitkan oleh BATAN guna menjadi sarana pembelajaran bagi siswa SD sampai dengan SMU serta masyarakat awam di sekitar Muria. Masih dalam media cetak tersebut juga dinukilkan bahwa seorang guru di Kudus menyatakan bahwa buku setebal kira-kira 25 halaman tersebut berisikan kampanye mendukung pembangunan PLTN dan tidak sedikitpun membahas tentang bahaya dan dampak dari PLTN.

Payah sekali BATAN itu, udah ga pernah minta ijin warga setempat eh malah sekarang masyarakat Balong di-anak-tiri-kan.

***

Senin (7/4/2008 ) saya bersama Mas Eko dari komunitas GETON mengikuti acara bedah buku tentang anti PLTN-fissi di Unika Soepra Semarang. Judul bukunya menyeramkan yaitu “Melawan Iblis Mephistopheles : Bunga Rampai Kajian Kritis Anti PLTN Fissi”. Bedah buku tersebut diadakan oleh LSM Percik, LISTHIA, dan MAREM. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para cendekia dan aktivis anti PLTN fissi seperti, Liek Wilardjo, Budi Widianarko, Iwan Kurniawan, Frans Magniz, Karlina Supelli, dll. Sedangkan pembahasnya pada acara tersebut adalah Benny dari PMPL Unika Soepra, Johny Simanjutak dari Komnas HAM dan Sudharto dari UNDIP.

Bedah buku yang dimoderatori oleh Dr. Yuliman dari Udinus ini pertama-tama memaparkan argumen dari Johny Simanjutak. Beliau memang tidak asing bagi “penikmat” anti nuklir di Indonesia, sebab pada dekade 90-an beliau menjadi Presiden MANI, yakni Masyarakat Anti Nuklir Indonesia, yang juga menentang keberadaan wacana pembangunan PLTN di Indonesia. Namun sayang beliau tidak bisa berlama-lama karena maklum orang sibuk.

Sedangkan pada giliran kedua adalah Prof. Sudharto dari MPL Undip. Beliau memaparkan tentang permasalahan beban lingkungan yang akan ditanggung oleh pembangunan PLTN, sebab sampai detik ini limbah dari uranium dan plutonium belum bisa terkelola dengan sempurna. Yang membuat saya terkesan dengan beliau adalah bahwa beliau merupakan guru besar Undip yang menolak pembangunan PLTN karena pertimbangan lingkungan sesuai bidang yang beliau geluti. Sementara kawan sejawat beliau di Undip kebanyakan mendukung wacana PLTN ini. Saya jadi teringat pepatah klasik : Memang susah mencari jarum di antara tumpukan jerami.

“Tapi jalan terus Pak Darto, kami mendukungmu !”, dukung saya dalam hati.

Giliran berikutnya adalah Mas Benny yang membedah dari sisi kajian hukum. Dalam paparannya mas Benny mengatakan agak kerepotan jika harus membedah seluruh isi buku sebab tidak semua kajian dalam buku ini sesuai bidang yang ia geluti. Malahan dalam keterangannya Mas Benny menyatakan dirinya ingin menggenapi kajian PLTN ini dari sisi Hukum.

Menurut mas Benny selama ini Pemerintah selalu menggunakan argumen bahwa Indonesia krisis energi jadi Pemerintah ngotot membangun PLTN. Padahal menurut beliau dalam Rancangan KEN, suplai listrik dari PLTN yang akan dibangun hanya akan menyumbangkan 2% dari total kebutuhan energi Nasional.

“Lha mbok yo, dipertimbangkan lagi. Mengejar dua persen tapi resikonya itu lho, ngga’ sebanding.”, tandas Mas Benny.

Dalam diskusi bedah buku ini juga dihadiri oleh penulis dan editornya. Dari penulis ada Pak Liek Wilardjo, Pak Budi Widianarko, Pak Hadiyono dan Pak Lilo Sunaryo sedangkan editornya yakni Mas Nick juga turut hadir.

Yang menarik bagi saya adalah ketika Mas Handoko dari Petani Batang melontarkan pertanyaan cum kritikan kepada para penulis buku ini.

”Sudah seharusnya para cendekia ini turun gunung untuk berjuang bersama masyarakat menolak PLTN, jadi jangan hanya membuat Puslit-Puslit saja. Di sekitar kita, terutama di lembaga pendidikan, sudah berapa banyak Puslit yang didirikan, namun tidak signifikan jika dibandingkan dengan peningkatan perbaikan kondisi ekososial di masyarakat.”

Mas Benny malah menimpali,”Itu yang saya bilang bahwa buku ini sebenarnya bukunya orang kayangan, atau negeri di atas awan. Yang artinya, bukunya orang-orang pinter semua, coba dilihat dari judulnya, saya saja perlu mengeja kata ”Mephistopheles” dulu biar ga kepleset. Kenapa gak sundel bolong atau suster ngesot saja tho?”, ujar mas Benny ini disambut gelak tawa oleh peserta diskusi.

Diskusi diakhiri tetap pukul 12.00 siang, walaupun mulainya sempat molor satu satu jam. Tapi yah ndak pa pa lah yang penting saya dapat wawasan dan pengetahuan baru.

Suwun.

Ditulis oleh Wawan Heru Suyatmiko.

Posted in: Opini