“Fitna” Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Posted on April 3, 2008

7


Baru-baru ini di jagad perfilman Indonesia setelah diramaikan oleh ajang IMA (Indonesian Movie Award) ternyata juga dikejutkan dengan booming film Ayat-Ayat Cinta (AAC) besutan sutradara muda Hanung Bramantyo. Film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazi ini menceriterakan tentang lika-liku lajang muslim yang hendak berpoligami, yang notabene poligami itu sendiri sampai detik ini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan muslim itu sendiri. Namun saya tak hendak menceriterakan film ini.

Selang beberapa saat setelah booming film AAC, ternyata kali ini publik Indonesia dan dunia dikejutkan oleh beredarnya film “Fitna” besutan Geert Wilder. Film “Fitna” merupakan film dokumenter pendek, yang berdurasi 17 menit, yang menceritakan tentang korelasi Islam dan Alqur’an dengan beberapa kejadian terorisme yang mewabah di dunia belakangan ini.

Geert Wilder adalah seorang politisi ekstrim kanan di Parlemen Belanda. Sepak terjang pria narsis satu ini memang sering membuat gerah politisi lain bahkan warga Negara Belanda di negaranya sendiri. Pria konyol ini juga pernah membuat statement di media Belanda bahwa beliau dan beberapa kolega di partainya menentang kebijakan tentang imigrasi bagi pendatang asing di negeri Belanda. Kembali ke inti filmnya, film pendek ini disinyalir sengaja disebarluaskan di media internet guna menyalurkan hasrat Wilder akan kebenciannya pada umat Muslim. Wilder pernah menawarkan film ini untuk ditayangkan di beberapa media televisi di Belanda, namun media televisi di Belanda tidak mau kecolongan akan aksi ambisius Wilder. Film ini diawali dengan gambar kontroversial karikatur Nabi Muhammad SAW. Dari prolog film ini saja publik (Muslim khususnya) sudah bisa menilai bahwa muatan film ini melecehkan umat muslim dan dunia Islam. Bahkan Ban Ki Mon (Sekjen PBB) menangkap adanya kepentingan Wilder untuk menciptakan kekeruhan perdamaian dunia di kalangan manusia.

Lalu bagaimana dengan tanggapan publik di Indonesia? Presiden SBY yang beberapa hari sebelumnya sempat menitikkan air mata saat menonton film AAC kini berang dengan beredarnya film “Fitna” bahkan beliau mencekal Wilder masuk ke Indonesia. Sedangkan tanggapan dari publik muslim beragam, yakni mulai dari sekedar menggelar aksi unjuk rasa sampai dengan melakukan kampanye boikot produk Belanda. Dien Syamsudin, Ketum Muhammadiyah menyatakan bahwa umat Islam berhak marah kepada Wilder dan film “Fitna”, namun beliau mengajak kepada seluruh umat muslim untuk tetap santun dalam menanggapi film konyol tersebut. Bahkan Azyumardi Azra menambahkan, jika umat muslim dalam berdemo menentang peredaran film tersebut diwarnai dengan aksi yang brutal maka ini berarti provokasi Wilder berhasil, maka tujuan Wilder-pun tercapai serta dia akan puas. Namun wanti-wanti ini agaknya tidak diperhatikan oleh beberapa aktivis mahasiswa HMI di Medan yang dalam aksinya mereka melakukan perusakan gerbang Konsulat Belanda bahkan membakar bendera Belanda, yang dalam hukum internasional berarti juga telah melanggar kedaulatan bangsa dan negara lain. Lha ini bisa berabe nantinya. Karena pasca publik ramai-ramai mengutuk film ini, secara sigap Dubes Belanda untuk Indonesia Mr. Nikolaos van Dam langsung mengklarifikasi bahwa apa yang diperbuat Wilder bukanlah mewakili rakyat kerajaan Belanda, namun hanya kekonyolan pribadi Wilder. Bahkan kabarnya saat ini aparat penegak hukum di negeri kincir angin tersebut memeriksa Wilder guna mencari tahu kepentingan Wilder dalam membuat dan menyebarluaskan film konyol tersebut.

Tanggapan dan protes keras juga berdatangan dari kalangan non muslim. PGI dan KWI menyatakan dengan keras mengutuk film tersebut. Franz Magniz Suseno dalam kesempatan di acara diskusi yang diadakan oleh SCTV menyatakan bahwa hendaknya film ini jangan dijadikan sebagai alat provokasi untuk memecah belah perdamaian antar umat beragama dan bahkan seluruh umat beragama, bukan hanya muslim saja, yang mengutuk film ini, dikarenakan film ini tidak mendidik.

Sebagaimana karikatur Nabi Muhammad demikian juga film “Fitna” merupakan hasil kreatifitas personal yang sangat sarkas, konyol dan provokatif. Hati-Hati bagi anda yang ingin melihatnya.

Memang “Fitna” lebih kejam daripada pembunuhan. Huh !!.

(Ditulis oleh Wawan Heru Suyatmiko).

Posted in: Opini