Wacana Pembangunan PLTN di Indonesia

Posted on March 26, 2008

5


MASIH PERLUKAH MEMBANGUN PLTN DI INDONESIA?

Oleh WAWAN H. SUYATMIKO

Tulisan ini berawal dari beberapa kali ikut diskusi tentang nuklir dan PLTN dengan kawan-kawan dari sebuah komunitas yang menamakan diri mereka Gerakan Tolak Nuklir atawa GETON. Dari rangkaian diskusi dan ditambahi dengan mencoba mencari beberapa sumber, termasuk ikutan seminar yang dihadiri oleh (konon katanya) begawan nuklir Indonesia, yakni Liek Wilardjo, maka lahirlah tulisan yang masih kurang di sana-sini. Awalnya tulisan ini mau dijadikan sebagai terbitan atau media kampanye GETON edisi perdana, namun karena terbatasnya waktu dan budget maka akhirnya tulisan ini keluar dalam bentuk yang lain di media maya ini. Judul asli dari tulisan ini adalah “PLTN = Pembangkit Listrik Tenaga Nasionalisme?.” Judul ini dipilih bukan tanpa alasan, sebab seringkali stigma yang diberikan oleh pemerintah bagi mereka yang mendukung pembangunan di Indonesia adalah berjiwa nasionalis, sedangkan yang tidak mendukung maka stigmanya sangat buruk: tidak memiliki jiwa nasionalis. Bahkan dalam pembangunan PLTN di Indonesia bagi yang berada di garis penolakan terhadap pembangunan PLTN ini bisa dicap sebagai orang-orang tak-nasionalis. Namun dari tulisan yang coba dipaparkan di bawah ini kiranya akan menjawab tentang semangat nasionalisme dari sisi yang berbeda, khususnya berkenaan dengan isu nasionalisme dan pembangunan reaktor nuklir atau PLTN di Semenanjung Muria.

Sekilas Tentang Realita Nuklir
Realitas industri nuklir saat ini tidak berbeda keadaannya dengan fenomena reaktor nuklir pada abad ke-20, dimana efek bahaya adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan. Dari waktu ke waktu kembali industri nuklir menunjukkan bahwa ”keamanan” dan ”energi nuklir” adalah dua terminologi yang tidak dapat disatukan. Kecelakaan dapat terjadi di reaktor manapun, yang dapat menimbulkan terjadinya pelepasan radiasi yang mematikan dalam jumlah besar ke lingkungan.
Bahkan dalam operasi normal materi radioaktif secara terus menerus dibuang ke tanah, udara, dan air. Kecelakaan-kecelakaan di dalam industri nuklir telah terjadi jauh sebelum bencana Chernobyl di tahun 1986. Dua puluh tahun kemudian, industri nuklir diwarnai dengan berbagai kecerobohan, insiden, dan kecelakaan.

Reaktor-reaktor nuklir tua merupakan penyakit endemis yang menyebar di seluruh dunia, terutama akibat dampak operasi jangka panjang dan komponen-komponennya yang berukuran besar. Pada saat yang sama, operator nuklir pun secara terus menerus berusaha untuk menurunkan biaya dikarenakan tingkat persaingan yang ketat di pasar listrik dan demi untuk memenuhi harapan pemegang saham.

Apa Itu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir?
PLTN adalah pembangkit listrik tenaga nuklir yang merupakan kumpulan mesin untuk menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan tenaga nuklir dengan berbagai reaksi fisi sebagai tenaga awalnya. Prinsip kerjanya seperti uap panas yang dihasilkan untuk menggerakkan mesin yang disebut turbin.

Secara ringkas dan sederhana, rancangan PLTN terdiri dari air mendidih. Boiled water reactor bisa mewakili PLTN pada umumnya, yakni setelah ada reaksi nuklir fisi secara bertubi-tubi di dalam reaktor, maka timbul panas atau tenaga, lalu dialirkanlah air di dalamnya. Kemudian uap panas masuk ke turbin dan turbin berputar pada porosnya. Turbin ini dihubungkan dengan generator sehingga dihasilkanlah sebuah energi baru yakni energi listrik.

Sejarah PLTN di Indonesia
Proses rencana pembangunan PLTN di Indonesia cukup panjang. Tahun 1972, telah dimulai pembahasan awal dengan membentuk Komisi Persiapan Pembangunan PLTN. Komisi ini kemudian melakukan pemilihan lokasi dan tahun 1975 terpilih empat belas lokasi potensial, lima di antaranya terletak di Jawa Tengah. Lokasi tersebut diteliti BATAN bekerjasama dengan NIRA dari Italia. Dari keempat belas lokasi tersebut, sebelas lokasi di Pantai Utara dan tiga lokasi di Pantai Selatan.

Pada Desember 1989, Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) memutuskan agar BATAN melaksanakan studi kelayakan dan terpilihlah NewJec (New Japan Engineneering Consultan) untuk melaksanakan studi tapak dan studi kelayakan selama 4,5 tahun, terhitung sejak Desember 1991 sampai pertengahan 1996.

Pada 30 Desember 1993, NewJec menyerahkan dokumen Feasibility Study Report dan Prelimintary Site Data Report ke BATAN. Rekomendasi NewJec adalah untuk bidang studi nontapak, secara ekonomis, PLTN kompetitif dan dapat dioperasikan pada jaringan listrik Jawa-Bali di awal tahun 2000-an. Tipe PLTN direkomendasikan berskala menengah, dengan calon tapak di Ujung Lemahabang, Grenggengan, dan Ujungwatu.

Aspek Regulasi dalam Pembangunan PLTN di Indonesia Lemah
Upaya pengembangan energi nuklir ini ternyata juga menggandeng keterlibatan beberapa negara antara lain Australia. Hal ini dapat dilihat dari persetujuan (MoU) antara Indonesia dan Australia melalui Program Pengembangan Nuklir untuk Tujuan Damai yang akan menjadi bagian dari perjanjian yang disebut Kerangka Kerjasama Keamanan Indonesia-Australia yang akan ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, dan Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajuda. Proses pengambilan keputusan rencana PLTN di Indonesia faktanya mengabaikan partisipasi masyarakat sebab klausul tentang partisipasi mayarakat dalam menentukan sebuah kebijakan termasuk ketentuan yang tercantum di dalam UU No. 10/1997 tentang Ketenaganukliran, sehingga kontradiktif dengan proses demokratisasi yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia. Tanpa melibatkan masyarakat sebagai subyek terdampak adalah suatu bentuk kontraproduktif dari sebuah kebijakan.

Selain itu dalam Perpres No. 7/2005 menetapkan energi baru dan terbarukan sumbangannya harus minimal 5% dari kebutuhan energi nasional pada 2025. Dengan strategi optimalisasi pengelolaan energi, BATAN menargetkan pada 2035 kontribusi energi dari nonfosil tersebut bisa mencapai 15%. Energi baru dan terbarukan di antaranya micro hydro, surya, angin, biomassa, biofuel, fuelcell, dan nuklir. Dari 5% yang ditargetkan, 2% disumbang nuklir dan 3% oleh lainnya. Nuklir sebesar 2% untuk total kebutuhan energi nasional itu setara dengan 4% dari kebutuhan total energi listrik nasional. Bisa dibayangkan bahwa dengan sumbangan terhadap kebutuhan energi nasional sebesar 2% saja, akan tetapi mempunyai dampak yang maha dahsyat. Ironis sekali.

Dampak Nuklir bagi Masyarakat dan Lingkungan
Seperti telah diketahui bersama bahwa dalam sebuah reaktor nuklir sangat membutuhkan kelimpahan air (Dwisila del Callar), sehingga kebutuhan pendinginan terhadap reaktor bisa berlangsung secara permanen. Dalam hal penyediaan air ini ketelambatan suplai air dapat berakibat fatal. Kasus ini pernah terjadi pada reaktor nuklir milik Amerika Serikat di Three Mile Island pada tahun 1979, sehingga menyebabkan kerusakan dan ledakan yang sangat hebat, namun sayang kasus ini tidak sempat ter-expose oleh media secara luas.

Reaktor nuklir sangat membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa manusia. Radiasi yang diakibatkan oleh reaktor nuklir ini ada dua. Pertama, radiasi langsung, yaitu radiasi yang terjadi bila radioaktif yang dipancarkan mengenai langsung kulit atau tubuh manusia. Kedua, radiasi tak langsung, yaitu radiasi yang terjadi lewat makanan dan minuman yang tercemar zat radioaktif, baik melalui udara, air, maupun media lainnya.

Keduanya – baik radiasi langsung maupun tidak langsung – akan mempengaruhi fungsi organ tubuh melalui sel-sel pembentukannya. Organ-organ tubuh yang sensitif akan dan menjadi rusak. Sel-sel tubuh bila tercemar radioaktif uraiannya sebagai berikut: terjadinya ionisasi akibat radiasi dapat merusak hubungan antara atom dengan molekul-molekul sel kehidupan, juga dapat mengubah kondisi atom itu sendiri, mengubah fungsi asli sel atau bahkan dapat membunuhnya. Pada prinsipnya, ada tiga akibat radiasi yang dapat berpengaruh pada sel. Pertama, sel akan mati. Kedua, terjadi penggandaan sel, pada akhirnya dapat menimbulkan kanker. Dan ketiga, kerusakan dapat timbul pada sel telur atau testis, yang akan memulai proses bayi-bayi cacat. Selain itu, juga menimbulkan luka bakar dan peningkatan jumlah penderita kanker (thyroid dan cardiovascular). Sebanyak 30-50% masyarakat di Ukrania mengalami radang pernapasan dan terhambatnya saluran pernapasan, juga masalah psikologi dan stres yang diakibatkan dari kebocoran radiasi.

Ada beberapa bahaya laten dari PLTN yang perlu dipertimbangkan. Pertama, kesalahan manusia (human error) yang bisa menyebabkan kebocoran, yang jangkauan radiasinya sangat luas dan berakibat fatal bagi lingkungan dan makhluk hidup. Dampak inilah yang perlu menjadi renungan bersama jika kita melihat dengan kondisi dan SDM kita. Sebagai studi kasus, kita melihat bagaimana kepongahan pemerintah dan korporasi dalam menghadapi bencana lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Kedua, limbah yang dihasilkan (uranium) bisa berpengaruh pada genetika. Limbah tersebut antara lain adalah Iodine-131 yang mempunyai waktu paruh 8 hari; Strontium-90 yang mempunyai waktu paruh 29 tahun; Cesium-137 yang mempunyai waktu paruh 30 tahun; dan yang paling mengerikan adalah Plutonium-239 yang mempunyai waktu paruh 24.000 tahun. Jika zat tersebut masuk ke dalam tubuh manusia dan terakumulasi maka akan mengancam jaringan dan organ tubuh dalam, seperti yang telah diungkapkan diatas. Ketiga, yaitu plutonium. Zat ini memiliki hulu ledak yang sangat dahsyat. Sebab, plutonium inilah salah satu bahan baku pembuatan senjata nuklir. Kota Hiroshima hancur lebur hanya oleh 5 kg plutonium. Di samping itu, tenaga nuklir memancarkan radiasi radioaktif yang sangat berbahaya bagi manusia.

Adapun dalam perspektif ekologis, limbah nuklir yang dihasilkan PLTN, sampai saat ini, belum terpecahkan solusinya. Persoalan ini juga dialami oleh negara-negara maju di Eropa, Amerika, dan Jepang, yang belum bisa memecahkan masalah penyimpanan limbah nuklir arus tinggi, mengingat intensitas radiasi radioaktif bisa berumur ribuan bahkan jutaan tahun (tergantung isotopnya). Meskipun seandainya ditanggung tiada kecelakaan atau kebocoran selama tahap operasi (25-30 tahun). Hal ini diperparah dengan fakta bahwa saat ini Indonesia belum mempunyai baku mutu standar logam berat dalam tanah sehingga apabila limbah logam berat (limbah uranium) masuk ke lingkungan melalui media tanah maka kita tidak bisa menggolongkan tingkat perparahan akumulasi logam berat dalam tanah.

Sekali Lagi: Kita Selalu Terlambat
Rencana pemerintah untuk membangun PLTN dapat dikatakan sebagai langkah mundur dalam pemilihan energi alternatif. Sebab, ketika di beberapa negara yang selama ini menggunakan tenaga nuklir berkeinginan menutup reaktor nuklirnya, justru Pemerintah Indonesia baru berencana membangunnya.

Amerika Serikat yang memiliki 110 buah reaktor nuklir atau 25,4% dari total seluruh reaktor yang ada di dunia, akan menutup 103 reaktor nuklirnya. Demikian halnya dengan Jerman, negara industri besar ini, juga berencana menutup 19 reaktor nuklirnya. Penutupan pertama dilakukan pada tahun 2002 kemarin, sedang PLTN terakhir akan ditutup pada tahun 2021. Keadaan lain juga terjadi di Swedia, yang menutup seluruh PLTN-nya yang berjumlah 12, mulai tahun 1995. Sampai negara tersebut bebas dari PLTN pada tahun 2010 mendatang.

Aksi Perlawanan Terhadap Pembangunan PLTN
Dalam perjalanannya, perlawanan terhadap pembangunan PLTN di Indonesia sejauh ini dipelopori oleh golongan pecinta lingkungan yang berisikan para cendekia, ilmuwan, dan aktivis pergerakan seperti WALHI, Greenpeace Indonesia, MANUSIA (Masyarakat Anti Nuklir Indonesia) dan juga MAREM (Masyarakat Reksa Bumi). Jika ditilik lebih dalam kebanyakan organisasi yang kontra terhadap pembangunan PLTN ini adalah organisasi berbasiskan pecinta lingkungan. Sebenarnya kita mempunyai perspektif yang maju terhadap aksi penolakan ini, karena, taruhlah di Jateng-DIY ini ada sekitar lima puluh universitas dengan jumlah fakultas di setiap universitas ada sepuluh dan di tiap fakultas ini terdapat organisasi mapala (mahasiswa pecinta alam) dengan anggota sepuluh orang saja, maka sudah ada lima ratus organisasi mapala dengan total anggota lima ribu orang. Kelima ribu orang inilah yang akan menjadi pionir dalam kampanye terhadap dampak pembangunan PLTN terhadap lingkungan. Ini dengan catatan pula bahwa mapala berfungsi sebagai pecinta alam yang sesungguhnya. Bukan hanya sebagai penikmat alam, naik gunung, susur sungai atau hanya bergulat dengan wallclimbing-nya dan menjadikan isu lingkungan sebatas seremonial. Sejauh kita kritis pada diri sendiri dengan sekuat tenaga mempertahankan integritas dan martabat kemanusiaan, kegagalan dalam sebuah perjuangan tidak dapat dikatakan sebagai kekalahan.

Akhirnya …?
Adalah sungguh tidak bermoral dan tidak bermartabat, memberikan beban pada generasi mendatang sebuah warisan limbah nuklir dan mengharapkan tugas generasi mendatanglah menemukan teknik menyimpan limbah nuklir dari produk generasi sebelumnya.

Oleh karena itu, mari kita katakan secara serentak, “PLTN?? No Way!!” Marilah kita kembali pada suatu kesimpulan bahwa PLTN bukanlah suatu pilihan yang mulia dan bijaksana, baik jika dilihat dari kacamata kepentingan sosial, ekonomi, politik, pelestarian lingkungan hidup, dan terjaminnya keberlanjutan kehidupan umat manusia. Jadi, PLTN bukanlah suatu pilihan yang tepat dan benar. Masih banyak sumber-sumber kehidupan dan sumber daya alam yang bisa dijadikan alternatif untuk negeri yang sedemikian kaya, seperti Indonesia, apalagi kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan energi. Dengan menggunakan bahan bakar seperti batubara, gas alam, panas bumi, matahari, atau bahkan mungkin dengan energi alternatif seperti micro hydro, biodiesel, biogas, dan angin, lebih memungkinkan sebagai solusi jangka panjang dengan tidak menabur bahaya dan mengorbankan keselamatan umat manusia.

Tulisan ini juga di posting di geton.nedw.org dan juga di http://www.infogue.com

Posted in: Artikel