Resensi Buku : Hubungan Utara-Selatan

Posted on March 3, 2008

0


Judul buku : Hubungan Utara Selatan : Konflik Atau Kerja Sama

Penulis : Martin Khor Kok Peng

Penerbit : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Konphalindo.

Cetakan : I, Jakarta 1993.

Buku karangan Martin Peng ini terdiri dari delapan bab yang kesemuanya membahas tentang jejak kapitalisme di negara-negara belahan bumi utara (Amerika Utara dan Eropa) pasca Perang Dunia II. Selain melacak sepak terjang kapitalisme (yang juga dikuti oleh paham neoliberalisme) di negara dunia Pertama juga dikupas tentang ekspansi ideologi pasar bebas setelah perang dingin. Menghilangnya polar Blok Barat dan Blok Timur yang ada pada PD II, berganti dengan Negara Dunia Pertama dan Negara Dunia Kedua secara langsung memberi perubahan yang sangat drastis di permukaan bumi ini dan imbasnya terbentuk golongan residu yang didefinisikan dalam Negara Dunia Ketiga.

Buku yang dibuka oleh kata pengantar karya Arief Budiman ini pada intinya terbagi atas tiga pokok pikiran mendasar. Pertama, ulasan tentang kondisi politik dan ekonomi dunia pasca PD II. Kedua, munculnya rumusan tentang tata kelola dunia baru yang mengarah pada kemenangan kaum pemuja pasar bebas yang diiringi dengan krisis politik ideologi sosialisme di negara-negara Eropa Timur termasuk kolaps-nya USSR. Tata dunia yang dianggap sah adalah kebebasan akan seluruh akses ekonomi yang cenderung pada orientasi pasar bebas (Free Trade), sehingga peran negara menjadi semakin tersisih. Atau dengan kata lain terjadinya kemenangan besar ordo laissez faire. Disinilah babak baru peleburan dua blok besar dunia berdamai. Ketiga, tentang dampak dan resiko (termasuk kegagalan) dari tata dunia baru yang berorientasi pada pasar bebas. Pemaksaan ideologi pasar bebas ini secara langsung merangsek pada lini sistem pemerintahan dan ekonomi di Negara Dunia Ketiga, negara yang didefinisikan sebagai kumpulan negara miskin dan bekas imperium negara-negara barat (Kolonialisme era PD I dan II). Pasca resesi PD II, banyak negara kaya yang bangkrut ekonominya karena pembiayaan perang yang mengambil dari anggaran belanja negaranya. Kolapsnya kondisi perekonomian negara kaya untuk memutar otak kembali mencari modal bagi negaranya. Terbentuknya organisasi tingkat dunia seperti PBB, menjadi cikal-bakal perumusan “dunia baru” yang lebih luas cakupannya. Hal ini sering disebut sebagai globalisasi. Seminar-seminar tentang tata dunia baru (Putaran Uruguay dan Paris Club) serta pembentukan lembaga-lembaga kreditor dan bantuan asing seperti World Bank, IMF, GATT, disinyalir sebagai suatu jalan untuk memasarkan ideologi neoliberalisme kepada negara-negara miskin. Di Indonesia sendiri munculnya lembaga seperti IGGI yang dikemudian hari berubah menjadi CGI juga menjadi cikal-bakal ketergantungan Indonesia terhadap bantuan dan utang luar negeri. Kegagalan kapitalisme global yang sangat kentara terlihat adalah kesenjangan tingkat kehidupan (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan) antara negara-negara Utara dengan negara-negara Selatan. Sehingga memunculkan polarisasi baru, yakni negara kaya dan negara miskin, bahkan memunculkan golongan konglomerat dan “orang dibawah garis kemiskinan”. Kegagalan berikutnya yang saat ini nampak terasa adalah kerusakan lingkungan yang berakibat pada penurunan kualitas hidup ragam hayati.

Melalui buku ini penulis berharap kepada pembaca agar lebih memahami lagi pola hubungan bilateral dan multinasional di belahan bumi ini secara obyektif. Serta mampu merenungkan kembali sebuah tatanan dunia yang lebih adil dan beradab.

“Fair Trade Not Free Trade !!”.

(Wawan H. Suyatmiko – lawankata -)

Posted in: Resensi