Archive for April 2008
Melawan Iblis Mephistopheles : Bunga Rampai Tinjauan Kritis Anti-PLTN-Fissi
Judul buku : Melawan Iblis Mephistopheles : Bunga Rampai Tinjauan Kritis Anti-PLTN-Fissi.
Penulis : Liek Wilardjo, Frans Magniz-Suseno, Arief Budiman, Budi Widianarko, Karlina Supelli, Iwan Kurniawan, Heru Nugroho, P.M. Laksono, Fabby Tumiwa, Venatius Hadiyono, Lilo Sunaryo, Zaenul Adzvar, Mustofa Bisri.
Penyunting : Nick T. Wiratmoko.
Penerbit : LISTHIA – Marem – Pustaka Percik.
Dari nyangkruk ke menerbitkan buku. Demikianlah mungkin apresiasi dari buku ini. Dalam cover yang dikartunisasi oleh Koesnan Hoesie ini menyiratkan gambaran kelam keberadaan PLTN di muka bumi. Gambar cover memang pas dengan judul besarnya. Artinya sangat provokatif dan sedikit hiperbolik. Read the rest of this entry »
Masih Perlukah Membangun PLTN di Indonesia (Part 2)
Tulisan ini saya buat sebagai catatan perjalanan saya bersama kawan-kawan dari komunitas GETON (Gerakan Tolak Nuklir) : Mas Eko, Mas Nick, Mas Yogi, Mas Reno dan Mas Febri. Tulisan ini dipisahkan dalam dua sesi berbeda, yakni sesi pertama kunjungan ke Balong-Jepara, sebagai daerah tapak PLTN dan sesi kedua saat bedah buku tentang Anti PLTN-Fissi di Unika Soepra, Semarang.
***
“Wan, cepetan ! Udah ditunggu ma temen-temen, nih !”, Begitulah nada keras seorang kawan terdengar dari telepon genggam saya. Pagi itu memang saya dan beberapa kawan dari komunitas GETON merencanakan untuk mengadakan “piknik” ke Balong-Jepara, yang konon katanya merupakan satu titik dari sebelas titik rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Hari itu minggu (6-4-2008), sengaja dipilih karena memang sudah janjian dengan Mas Sumedhi, tokoh pemuda desa Balong yang dikenal “vokal” didaerahnya. Tujuan saya dan beberapa kawan ke Balong tidak lain adalah karena menepati janji untuk mengadakan diskusi tentang energi alternatif Biogas, yang saat ini menjadi primadona energi alternatif di Indonesia. Read the rest of this entry »
“Fitna” Lebih Kejam Daripada Pembunuhan
Baru-baru ini di jagad perfilman Indonesia setelah diramaikan oleh ajang IMA (Indonesian Movie Award) ternyata juga dikejutkan dengan booming film Ayat-Ayat Cinta (AAC) besutan sutradara muda Hanung Bramantyo. Film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazi ini menceriterakan tentang lika-liku lajang muslim yang hendak berpoligami, yang notabene poligami itu sendiri sampai detik ini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan muslim itu sendiri. Namun saya tak hendak menceriterakan film ini.
Selang beberapa saat setelah booming film AAC, ternyata kali ini publik Indonesia dan dunia dikejutkan oleh beredarnya film “Fitna” besutan Geert Wilder. Film “Fitna” merupakan film dokumenter pendek, yang berdurasi 17 menit, yang menceritakan tentang korelasi Islam dan Alqur’an dengan beberapa kejadian terorisme yang mewabah di dunia belakangan ini. Read the rest of this entry »