ARTIKEL : Komersialisasi Kampus

Posted on February 27, 2008

0


KOMERSIALISASI KAMPUS : ANTARA REALITA DAN UTOPIA

oleh WAWAN HERU SUYATMIKO

Pengalaman di UNAM, Meksiko, membuktikan murahnya pendidikan (sekitar 50 sen persemester), tidak berarti buruknya fasilitas kampus. Bahkan UNAM yang jumlah mahasiswanya mencapai 268.000 orang, memiliki fasilitas berupa empat buah SMA yang siswa-siswanya begitu lulus menjadi mahasiswa UNAM. Namun ketika program Neo-liberalisme diperkenalkan, biaya SPP dinaikkan hingga US$ 140, sebuah angka yang cukup mahal di kota Meksiko. Akibatnya, hampir sebagian mahasiswa UNAM melakukan mogok kuliah yang kemudian berbentrokan dengan aparat kepolisian yang diundang oleh pemerintah, untuk merebut kembali kampus.

Cerita diatas menggambarkan betapa drastisnya suatu perubahan, ketika neo-liberalisme mulai merambah masuk ke dalam sistem pendidikan. Neo-liberalisme dalam kebiasaannya selalu menggunakan langkah-langkah seperti privatisasi dan komersialisasi. Artinya menutup seluruh akses publik dari yang seharusnya sebagai kepemilikan komunal menjadi kepemilikan perseorangan atau korporasi yang sudah barang tentu untuk kepentingan peningkatan laba (profit oriented) si pemilik saham. Komersialisasi sekarang ini juga mulai merambah pada ranah pendidikan, yang seharusnya menjadi fasilitas publik dan hak setiap manusia untuk tujuan memajukan peradaban manusia supaya lebih memahami hakikatnya sebagai seorang manusia, namun berubah drastis, yakni menjadi basis institusi proyek industri kapitalis.

Dunia bisnis dengan dunia kampus memiliki perbedaan yang mendasar. Jika dunia kampus mempunyai tugas untuk melayani masyarakat, maka dunia bisnis hanya memiliki satu kepentingan yaitu memperkaya diri para pemegang saham. Apa jadinya jika fasilitas penelitian di kampus-kampus lebih banyak dipakai untuk kebutuhan-kebutuhan komersil? Semua pusat perhatian penelitian di kampus akan lebih banyak tercurah kepada kepentingan-kepentingan para pemilik modal, bukan mayoritas masyarakat.

Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara, terutama negara-negara maju. Di Kanada misalnya, pengaruh korporat mulai mengarahkan kampus sebagai pelayan kepentingan ekonomi mereka, yaitu pasar produk mereka dan riset yang dilakukan kampus. Komersialisasi riset dan pengembangan justru dianjurkan oleh sebuah badan yang didirikan oleh pemerintah federal, Expert Panel on the Commercialization of University Research. Ternyata, badan yang diketuai oleh Menteri Perindustrian Kanada ini tidak diisi oleh ahli-ahli akademik, melainkan para pengusaha dan non akademis lainnya yang memang ditunjuk oleh pemerintah dan badan ini berintikan para pengusaha besar di Montreal . Kasus demi kasus terjadi, dua yang terakhir adalah pendirian McGill College International yang didanai swasta dan kasus kesepakatan rahasia mengenai riset minuman dingin.

Seperti diungkapkan di atas, masuknya intervensi industri ke dalam kampus telah menciptakan basis bisnis baru, riset dan pengembangan produk. Awalnya, ladang bisnis ini dijalankan secara diam-diam ataupun bahkan diselimuti oleh institusi-institusi penelitian kampus untuk membiayai berbagai macam kegiatan akademik. Yang digunakan juga fasilitas-fasilitas kampus. Kenapa tidak? Di negara-negara maju hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Apalagi hampir kebanyakan tenaga pengajar yang dinilai terbaik oleh kampus-kampus Indonesia dididik di negara-negara tersebut. Namun lama kelamaan, ia menjadi lahan bisnis yang menguntungkan, terutama untuk beberapa kalangan di dalam kampus yang dekat dengan fasilitas penelitian dan pengembangan kampus. Dan pihak birokrasi kampus-pun mulai melihat riset IPTEK sebagai lahan bisnis yang dapat memberikan pemasukkan untuk anggaran kampus, ataupun anggaran pribadi jika person-personnya terlibat KKN.

Saat inipun, banyak tugas-tugas akhir mahasiswa S1, terutama di fakultas-fakultas yang dekat dengan basis industri dan mempunyai nilai jual (seperti fakultas ekonomi, fakultas teknik dan fakultas MIPA), sudah sangat banyak dipengaruhi oleh pengembangan fasilitas penelitian kampus sebagai sarana bisnis. Banyak dosen-dosen pembimbing yang juga terlibat proyek penelitian dengan berbagai perusahaan, justru memanfaatkan tenaga gratisnya para mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas akhir tersebut untuk membantu menyelesaikan proyeknya. Jadi, kini terjadi pergeseran paradigma kampus, dari yang tadinya sebagai penghasil calon ilmuwan dan peneliti unggul, kini kampus berubah layaknya pabrik yang memproduksi sarjana, yang hanya menjadi sebagai mur dan baut dari mesin kapitalis. Keberadaan lembaga pengabdian masyarakat-pun kini kurang begitu jelas peran, fungsi dan kontribusinya terhadap permasalahan sosial, politik dan budaya. Banyak LPM yang hanya dijadikan tempat untuk menyusun proposal kerjasama dengan lembaga donor untuk mendapatkan proyek atau bahkan hanya menjadi think-tank dari perusahaan tertentu.

Komersialisasi di bidang pendidikan tidak berhenti di situ saja. Komersialisasi dibuktikan dengan perubahan mencolok seperti dibangunnya gedung-gedung megah dan bertingkat, yang apabila ditelaah secara logika realistis, mana mampu institusi non profit membangun gedung megah nan mewah. Ditengarai gedung-gedung megah tersebut adalah bonus atau hadiah dari kolega birokrat kampus yakni kaum industrialis. Yang artinya, gedung tersebut adalah rasa terima kasih perusahaan kepada kampus yang mendelegasikan “peneliti-peneliti”, yang telah setia mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk percepatan akumulasi modal dan laba si pemilik perusahaan.

Simbiosis mutualisme antara perusahaan dan kampus juga mulai merangsek masuk melalui pembangunan basis industri di lingkungan kampus, tentunya dengan alasan untuk mempermudah ketersediaan kebutuhan (barang dan jasa). Seperti pembangunan plasa-plasa dan mini market di dalam areal kampus. Yang parahnya bukan hanya menjual barang berbau akademis saja tetapi kebutuhan non akademis juga tersaji di plasa tersebut. Jadi perubahan mendasar yang sangat mencolok adalah ketika masuk kekampus, disepanjang gerbangnya yang tersaji adalah betapa semaraknya penyambutan yang dilakukan oleh basis perdagangan, seperti plasa yang menjual makanan siap saji, mesin ATM, rental VCD, butik-butik pakaian (factory outlet;distro) dan baliho besar (iklan atau sponsor) yang menawarkan produk perusahaan yang menjalin kerjasama dengan kampus. Dan bukannya basis pendidikan, seperti gedung perkuliahan, laboratorium, perpustakaan, auditorium yang sedang mengadakan seminar ilmiah, atau gazebo yang berisikan mahasiswa yang sedang berdiskusi tentang semua masalah yang terjadi, dari masalah perkuliahan sampai dengan masalah yang terjadi dilingkungan sekitarnya.

Perusahaan yang ingin megakumulasikan modal-nya kini sudah tidak canggung lagi “melenggang-kangkung” di kampus, karena mereka kini juga merasa memiliki kampus tersebut. Ya, memiliki brand product-nya, terus memiliki secuil lahan untuk menjajakan brand product-nya, juga memiliki pangsa pasar yang tidak sedikit. Kehidupan kampus sekarang, dengan budaya consumer behaviour merupakan target-sasaran yang empuk untuk mengakumulasi modal dan keuntungan.

Kampus pada dasarnya merupakan wadah pengembangan diri mahasiswa dan menjadi tempat pembelajaran kaum akademis untuk dapat menghargai kehidupan dan lingkungannya. Pendidikan sebagai sebuah pranata sosial berfungsi melestarikan kebudayaan antargenerasi. Kebudayaan, dengan sendirinya merupakan produk interaksi sosial, di mana di dalamnya saling terjalin faktor-faktor ekonomi, politik bahkan pertahanan keamanan. Masyarakat bukan sebuah benda mati yang inert, tetapi sistem yang dinamik. Kampus berada di tengah masyarakat yang bergejolak (kadang evolusioner, namun tak jarang muncul dalam bentuk letupan-letupan revolusi). Maka pendidikan tidak mungkin lari dari persoalan-persoalan sosial, betapapun diklaim bahwa warga kampus memiliki keunikannya sendiri sebagai bagian dari komunitas intelektual.

Kini pertanyaannya adalah seberapa jauh dampak komersialisasi yang terjadi pada sistem pendidikan, apakah hanya berhitung tentang untung-rugi. Keuntungan tak ternilai dari sebuah lembaga pendidikan adalah kemampuan menghasilkan profil lulusannya untuk mampu menghadapi tantangan dan menjadi pionir dalam suatu perubahan. Bukan menyerah pada belenggu penindasan atau bertekuk lutut pada kebobrokan. Penolakan terhadap komersialisasi pendidikan merupakan sebuah keniscayaan dalam mewujudkan kembali cita-cita luhur pendidikan itu sendiri.

About these ads
Posted in: Artikel